Wudhu: Pelajaran Berpikir dan Bersikap Positif

Success with Shalat

“Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (QS. Al-Anbiya: 30)

Ia yang Hidup, yang Memositifkan

Pada tahun 2003, Dr. Masaru Emoto, seorang peneliti dari Hado Institute, Tokyo, Jepang, melalui penelitiannya mengungkapkan keanehan sifat air. Mendasarkan pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.

Seolah Ia ‘menyatakan’ bahwa air itu hidup, bisa mendengar kata-kata, bisa membaca tulisan dan memahami pesan. Dalam bukunya yang berjudul The True Power of Water, bebrapa eksperimen yang dilakukannya antara lain: Air murni dari mata air di pulau Honshu didoakan menggunakan doa agama Shinto, kemudian didinginkan di laboratorium sampai -5oC, selanjutnya diambil gambar dengan kamera berkecepatan tinggi pada tampilan di bawah mikroskop elektron. Molekul air tersebut membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi dengan membaca kata “Arigato” (terima kasih dalam bahasa Jepang), air kembali membentuk kristal sangat indah. Dilakukan percobaan juga dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang “Arigato”, kristal membentuk keindahan yang sama.

Percobaan berikutnya ditunjukkan kata “Setan” pada air tersebut, kristal yang terbentuk menampilkan kondisi buruk. Diputarkan musik symphony Mozart, kristal muncul bentuk bunga. Ketika musik heavy metal diperdengarkan kristal hancur. Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan damai (peace), kristal air mengembang bercabang-cabang sangat indah. Dan ketika dibacakan doa Islam, kristal membentuk segi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Masya Allah!

Sampai saat ini penelitian Emoto masih dianggap kontroversial. Salah satu penyebanya tidak bisa didapatkan kembali hasil seperti diperoleh Emoto oleh beberapa peneliti yang mencoba melakukan metode sama dilakukan Emoto. Namun demikian, pengaruh pesan dalam bentuk doa pengaruhnya sangat nyata, misalnya terhadap sel darah, kesehatan fisik sesorang, termasuk pada pertumbuhan dan kesuburan tanaman, secara ilmiah sudah banyak dilakukan eksperimen, dan menunjukkan hasil efektif.

Kembali lagi ke pembahasan tentang air. Air termasuk juga darah layaknya mahluk hidup, ia merespon pesan apa saja yang dikenakan pada dirinya. Jika pesan yang disampaikan baik, air akan memberikan tanggapan dengan respon yang baik. Jika pesan yang diberikan buruk, air akan meresponnya dengan hal yang buruk.

Faktanya bahwa tubuh manusia sendiri sebagian besar atau sekitar 75% terdiri atas air. Otak, 74,5% bagiannya berupa air. Komponen darah 82% berupa cairan. Tulang yang keras skalipun masih mengandung 22% air di dalamnya. Air dalam tubuh memiliki peranan sangat penting bagi kesehatan dan kelangsungan hidup. Kita mampu bertahan hidup hingga 10 hari tanpa makan, tapi tanpa minum kita hanya bisa bertahan dalam waktu 4 hingga 5 hari.

Dalam ranah psikologi, ‘air’ dalam tubuh juga berperan penting terhadap kepribadian dan karakter seseorang. Dengan menganalogi temuan Emoto, respon air dalam tubuh kita akan bergantung pada informasi-informasi yang diterima. Jika lebih banyak informasi positif yang masuk dalam diri kita, insya Allah tubuh kita akan dipenuhi dengan ‘kristal-kristal’ indah. Sebaliknya jika informasi-informasi yang sering kita masukkan justru lebih dominan negatif, kristal-kristal buruklah yang akan menghuni tubuh kita.

Kawan-kawan mungkin berpikir, mengapa kita harus ambil pusing dengan ‘kristal-kristal’ yang terbentuk dalam tubuh kita, nyatanya toh ia tidak akan tampak dari luar. Baiklah, bentuk kristal bisa kita anggap sebagai simbolisasi, terpenting setelah semua itu kita ketahui, akan memunculkan kesadaran dan perubahan cara pandang dan berpikir kita. Sebab pesan positif akan menjadikan kita bereaksi positif, berfikir lebih baik, mengambil tindakan-tindakan bermanfaat yang secara terus-menerus dilakukan akan membentuk karakter positif pada diri kita. Sayangnya hal ini juga berlaku sebaliknya. Reaksi ‘air’ terhadap pesan merupakan hukum alam yang berlaku bagi kita, maka kita sendiri yang wajib mengatur apa yang seharusnya masuk dalam tubuh dan jiwa kita.

Dalam sebuah riwayat, suatu hari Rasulullah saw. pernah menggendong seorang bayi, namun dalam gendongan Rasulullah si bayi ini ngompol, meski demikian Rasulullah tetap menggendongnya. Begitu si ibu mengetahui bayinya ngompol, ia sepontan menarik paksa si bayi dari gendongan Rasul, karena merasa sungkan. Rasulullahpun menasehati si Ibu, kira-kira kalau pakai bahasa sekarang seperti ini, “Mpok, ngak usah kayak gitu, baju ane nih… lebih gampang dibersiin daripada hati anak ini.” Rasulullah sangat paham bagaimana pengaruh emosi atau perasaan marah kepada sseorang, tak terkecuali seorang bayi. Marah itu ibarat kita menancapkan paku-paku di tembok. Sekalipun pakunya sudah dicabut, lubang bekas paku masih tetap ada pada tembok. Begitu pula dengan hati yang tersakiti.

Saya mengenal sepasang suami-isteri yang, menurut saya, memiliki perangai kasar dalam memperlakukan anak. Saya sering kali menyaksikan keduanya memarahi dan memukul anak-anaknya meskipun trhadap masalahnya kecil. Sudah banyak yang menasehati tapi Allahu ‘alam hingga saat ini belum ada perubahan. Apa yang dilakukan orang tua ini ternyata tidak membuat anaknya menjadi penurut, namun justru sebaliknya, anak-anaknya menjadi bandel dan tukang bantah. Terhadap teman-teman sebayanya, anak-anak ini bertindak nakal, kerap memukul, lagi kasar.

Kawan-kawan, tindakan anak-anak tersebut kepada temannya tidak lain respon ‘air’ dalam tubuh si anak. Ia berlaku kasar karena ia diperlakukan kasar. Ia memukul karena ia menerima pukulan. Ia menjadi pemarah karena ia sering dimarahi. Apa yang di katakan oleh Dorothy Law Nolte patut kita jadikan pengingat untuk diri kita, bahwa setiap anak belajar dari kehidupannya.

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Kawan-kawan yang saya cintai karena Allah, kita begitu dekat dengan air. Air tak mungkin terpisahkan dari kehidupan kita. Perintah dalam agama kitapun seringkali memanfaatkan air sebagai media atau sarana ibadah. Syarat sah shalat salah satunya suci dari hadast dan najis. Cara membersihkan najis diantaranya dengan air. Menyucikan diri dari hadats kecil dengan berwudhu menggunakan air, menghilangkan hadats besar diperintahkan mandi dengan air, pun orang meninggal wajib dimandikan dengan air.

Perintah wudhu sebelum melaksanakan shalat menjadi bagian sangat penting bagi kita, umat muslim. Minimal kita melakukan wudhu sebanyak 5 kali dalam sehari dengan asumsi setiap shalat fardhu kita mengambil wudhu. Kembali lagi, jika kita memahami bahwa air itu ‘hidup’ dan bisa merespon pesan, maka wudhu mengandung pesan-pesan luar biasa melalui anggota wudhu yang kita basuh. Wudhu tidak sekedar menyucikan kita dari hadats kecil, lebih dari itu, ini cara Allah swt. menginstall ‘software-software’ positif pada diri kita.

Niat pada awal wudhu akan menjadi doa sekaligus pesan yang amat baik bagi ‘air’ tubuh kita. Pesan baik itu kemudian akan dikembalikan kepada kita dalam bentuk respon yang baik. Saya memercayai bentuk respon air tidak hanya berupa ‘kristal-kristal indah’, airpun akan merespon dengan memberikan balasan doa terhadap doa-doa kita, biidznillah. Apa yang didoakan air? Ia ‘mengaminkan’ doa seperti maksud kita ketika membasuh anggota-anggota wudhu. Ia akan senantiasa menjadi ‘mahluk’  yang menyucikan sekaligus mendoakan di setiap wudhu kita. Masya Allah, bukankah ini luar biasa?

Kak Arif, saya memanggilnya. Beliau ustadz saya ketika masih duduk di bangku SMA. Beliau seorang dosen sebuah Universitas Islam di Semarang. Pelajaran wudhu yang baik saya dapatkan dari beliau. Beliau di antara sedikit orang yang senantiasa menjaga wudhu. Beliau senantiasa mengusahakan berada dalam kondisi suci, bahkan ketika beliau sudah rapi (berkemeja, berdasi, dan bersepatu) dan telah siap di dalam mobil sekalipun, jika ada yang membatalkan wudhu, beliau lebih memilih untuk berwudhu lagi daripada melakukan perjalanan tanpa wudhu. Saya menyaksikan beliau memiliki wawasan dan cara pandang yang luas, memiliki analisis yang tajam, dan senantiasa berpikir positif. Belum pernah saya temukan beliau dalam keadaan marah. Beliau memang tegas; tegas sebagai sebuah karakter, tapi pemarah sungguh tidak melekat pada pribadi beliau. Hemat saya, pada diri beliau ada kepribadian-kepribadian wudhu.

Seorang kawan pernah membuat sebuah kesimpulan bahwa wajah orang yang terbiasa dibasuh dengan air wudhu sangat berbeda dengan wajah orang yang jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah terkena air wudhu, auranya beda. Ketika seseorang marah, sesungguhnya kemarahan itu adalah perwujudan dari setan. Seseorang akan merasakan matanya memerah, daun telinganya panas, detak jantungnya bertambah cepat saat sedang marah. Tidak akan pernah ditemui seseorang yang marah akan mampu berpikir positif. Apa yang disampaikan dalam kemarahan biasanya bukanlah sesuatu yang muncul dari proses berpikir, lebih sebagai pelampiasan emosi negatif yang muncul. Kemarahan seperti ini biasanya disebabkan merasa harga dirinya direndahkan, dilecehkan, berbeda pendapat dengan dirinya pada urusan pribadi dan dunia.

Rasulullah mengajarkan kepada kita, tidak layak kita marah berkaitan masalah pribadi dan dunia, tetapi kepada seseorang yang menentang dan mendustakan agama kita berkewajiban marah terhadap hal itu.

“Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata, “Nabi Saw. memilih perkara yang ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, maka Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan (kepentingan) pribadi, tapi jika ajaran-ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillahi ta’ala).” (HR. Bukhari)

Marah dalam konteks ini tidak patut bila dimaknai dengan Rasul ngamuk-ngamuk, mata melotot, mengumpat, mengancam, dan sejenisnya. Karena, pemaknaan ini tidak sesuai dengan firman Allah Swt.:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)

Sehingga, makna yang cocok untuk menggambarkan kata ‘marah’ dalam hadits tersebut adalah ‘mengingkarinya’, kemudian melakukan strategi-strategi dakwah dan perbaikan, demi hadirnya tuntunan yang solutif, bukan tuntutan geram yang menakut-nakuti.

Rasulullah saw. pernah mengajarkan juga, “Jika kamu marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan duduk, berbaringlah. Jika kamu masih marah, padahal sudah dalam keadaan berbaring, segera bangkit dan ambil air wudu untuk bersuci dan lakukan shalat sunah dua rakaat.”

Kualitas berpikir seseorang memiliki kaitan dengan wudhu. Mereka mendawamkan wudhu, menjaga wudhu insya Allah akan mendapatkan pelajaran dan hikmah dari melalui wudhunya, insya Allah akan mampu berpikir lebih baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan mereka yang tidak terbiasa berwudhu. Hasil fikir yang keluar dari kesucian jiwa, ketenangan hati, dan jauh dari amarah. Kitab Shahih Bukhari menjadi contoh kitab menyejarah yang abadi dan kemanfaatannya tak lekang zaman. Pada saat berkarya, untuk menuliskan satu hadits saja Imam Bukhari melakukan wudhu dan shalat. Kata beliau, “Kitab ini saya pilihkan dari 600 ribu hadits, dan tidaklah aku tulis satu hadits dalam kitab ini, kecuali saya wudhu atau mandi dan shalat 2 rakaat”.

Bersambung….

Leave a Reply