Ayat-ayat Motivasi #1

Ayat-ayat Motivasi #1

QS. Ali Imran: 139

Kawan-kawan, mulai hari ini Kangsalman.com sharing kajian buku. Kali ini kita akan membahas buku yang berjudul Ayat-ayat Motivasi: 70 Motivasi Paling Dahsyat Dalam Al-Qur’an, yang ditulis oleh Ust. Adi Abdillah.

Jika saya tidak bisa membahas semuanya, ya sebagian saja yang saya ketengahkan untuk para pembaca.

Sebelum menyampaikan pokok bahasan yang pertama, di dalam Al-Qur’an sendiri disampaikan bahwa Al-Qur’an sebagai as-syifa (penyembuh). Jika Anda berfikir sebagai penyembuh tubuh semata, kawan-kawan perlu ingat bahwa menurut penelitian sebagian sakit fisik pada manusia justru disebabkan oleh jiwa. Maka Al-Qur’an adalah penyembuh jiwa raga kita.

Di bagian pertama ini penulis buku mengetengahkan ayat yang luar biasa. Kita baca terlebih dahulu, ya. Silahkan!

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Arab-Latin: Wa lā tahinụ wa lā taḥzanụ wa antumul-a’launa ing kuntum mu`minīn Terjemah

Arti: Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 139)

Subhanallah ayat yang dahsyat buat Anda yang saat ini sedang galau, sedih, pilu dan berduka cita, apalagi minder. Allah telah memuji kita secara jelas agar tidak merasa lemah dan bersedih hati.

Dalam ayat di atas seolah-olah Allah SWT berkata, “Hai hamba-Ku, kalian jangan sedih, jangan minder dan merasa berduka, bukankah kalian orang yang beriman? Dan asal kalian tahu orang-orang yang beriman itu derajatnya paling tinggi di sisi-Ku dibanding umat-umat yang lain. Pede dong kalian. Kalian itu orang-orang yang telah aku pilih. Bukankah itu suatu nikmat yang luar biasa. (Sumber: Buku Ayat-Ayat Motivasi)

Asbabun Nuzul turunnya ayat ini ialah pada masa itu, umat Islam mengalami kekalahan akibat kelalaiannya di perang Uhud. Banyak panglima yang tewas saat pertempuran, sehingga membuat mereka yang selamat saat itu merasa sangat kecewa, terpuruk, terpukul dan sangat bersedih. Nah, akhirnya turunlah ayat ini untuk menyadarkan kaum muslimin dari kondisi tersebut.

Yuk, sekarang kita baca beberapa tafsir tentang ayat ini:

Tafsir Kementrian Agama RI:

Ayat ini menghendaki agar kaum muslimin jangan bersifat lemah dan bersedih hati, meskipun mereka mengalami kekalahan dan penderitaan yang cukup pahit pada perang Uhud, karena kalah atau menang dalam sesuatu peperangan adalah soal biasa yang termasuk dalam ketentuan Allah.

Yang demikian itu hendaklah dijadikan pelajaran. Kaum muslimin dalam peperangan sebenarnya mempunyai mental yang kuat dan semangat yang tinggi jika mereka benar-benar beriman.

Tafsir al-Misbah, oleh Muhammad Quraish Shihab:

Selain itu, janganlah kalian merasa lemah lalu tidak berjuang dan berperang karena hal-hal yang menimpa diri kamu sekalian! Jangan pula meratapi saudara-saudara kalian yang gugur! Kalian, berkat dukungan Allah, keimanan, dan kekuatan kebenaran yang kalian bela, adalah lebih tinggi dari itu semua.

Dan kemenangan akan selalu berada di pihak kalian bila keimanan kalian betul-betul kuat dan sepenuh hati.

Tafsir al-Jalalain, oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Janganlah kamu merasa lemah) dalam memerangi orang-orang kafir (dan jangan pula bersedih hati) atas sesuatu musibah yang menimpa dirimu (padahal kamu orang-orang yang tertinggi) hingga mampu mengalahkan mereka (jika kamu orang-orang yang beriman) maksudnya benar-benar beriman sedangkan yang menjadi jawab syarat ialah apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat-kalimat yang sebelumnya.

Tafsir al-Muyassar, oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Jangan merasa lemah wahai orang-orang mukmin dalam memerangi musuh kalian, jangan bersedih terhadap apa yang menimpa kalian di Uhud, karena kalian adalah pemenang dan akibat yang baik adalah milik kalian, bila kalian membenarkan Allah dan Rasul-Nya, dan mengikuti syariat-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir, oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala Berfirman menghibur hati kaum mukmin: Janganlah kalian bersikap lemah. Yakni janganlah kalian menjadi lemah dan patah semangat karena apa yang baru kalian alami. …dan jangan (pula) kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kalian orang-orang yang beriman. Maksudnya, akibat yang terpuji dan kemenangan pada akhirnya akan kalian peroleh, wahai orang-orang mukmin.


Baik kawan-kawan, semoga ayat ini semakin memantapkan keyakinan kita kepada Allah SWT. Termasuk menyemangati kita, sebagai seorang yang beriman kita tidak boleh lemah, tidak boleh berkecil hati, tidak boleh merasa rendah diri dan sebagainya. Justru kita harus mengikhtiarkan apa yang Allah sampaikan bahwa kita adalah kaum terbaik dalam bentuk karya nyata.

Mengikhtiarkan sebagai bentuk rasa syukur kita. Dikaruniai mulut hendaknya dipergunakan dengan baik. Jika diberikan tugas kultum, kita selalu menolak karena merasa tidak bisa, boleh jadi ini bentuk mengingkari rasa syukur kita telah diberikan karunia mulut.

Diberikan kepercayaan untuk menjadi ketua RT karena merasa kurang mampu. Kemudian komplain jika ada orang yang tidak seiman menerima amanah itu. Bisa jadi pula kita tidak mempersiapkan dengan baik pada keterampilan dan kemampuan yang suatu saat dibutuhkan untuk kemaslahatan masyarakat. Lagi-lagi bisa jadi kita kurang mensyukuri karunia ‘kepemimpinan’ kita dengan tidak mengoptimalkan daya dan upaya untuk belajar dan menerima amanah.

Jikapun ada ‘kekalahan’ (kekhilafan, kesalahan, salah strategi, salah mengambil kebijakan) karena kekurangan diri, ketidaktahuhan, ketiadaan ilmu, selama apa yang kita kerjakan untuk Allah, Insyaa Allah… Allah akan tetap mencatatanya sebagai sebuah kebaikan.

Bukan menang atau kalah yang Allah inginkan pada kita, tapi kesungguhan kita berjuang di jalan-Nya.

Wallahu alam.

kangsalman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *