Kerja itu Ibadah?

Jaminan Allah atas rezeki bukanlah penghilang peran ikhtiar dan kerja. Berikhtiar, bekerja, atau berusaha adalah sebuah syarat mulia untuk menjemput rezeki-Nya, namun tekanan yang utama dalam ikhtiar tersebut adalah ketaatan kepada-Nya, karena Allah lah yang Maha menentukan, Dialah pemilik apa-apa yang kita cari. Jadi pasti ada yang salah ketika kita begitu gigih bekerja keras atas nama ibadah, namun dalam prosesnya kita lalai dari aturan Allah.

Bangun pagi hari bergerak ke pasar, ke kantor, namun salat subuh terlewat, betulkah kerja itu ibadah?

Beranjak memenuhi janji klien, bertemu dengan atasan, menyelesaikan tugas, namun shalat Ashar terlupa, betulkah kerja itu ibadah?

Rapat penting, _meeting_ dengan tamu istimewa, namun shalat Jumat tertinggal, betulkah kerja seperti itu ibadah?

Hal di atas menunjukkan beberapa indikasi ketika pekerjaan dan bisnis sudah menjadi Tuhan bagi kita. Begitu bersegera ketika dibangunkan untuk pekerjaan kantor, terburu-buru ketika terlambat dengan penuh rasa khawatir, takut ditegur oleh direktur, takut dipecat, takut berhenti, takut terputus rezekinya, namun di lain sisi begitu malas untuk bangkit shalat, bahkan sebagian orang rela untuk mengakhirkan shalat atau meninggalkan shalat agar tidak telat kerja dan bisa datang tepat waktu sehingga disenangi oleh direktur.

Siapa tuhanmu?
Siapa yang memberimu rezeki?
Siapa yang mencukupimu?
Siapa yang memberi pekerjaan?
Siapa yang kuasa menyelesaikan masalah-masalahmu?
Siapa yang bisa mewujudkan hajat-hajatmu?
Sudahkah kita bertuhan Allah saja?
Kemanakah sesungguhnya hati dan raga ini menghadap?

Ternyata tidak semua kerja bernilai ibadah. Bagaimana mungkin kerja kita bernilai ibadah, ketika justru pekerjaan itu menggeser Allah di hati. Bekerja atas nama mencari rezeki, namun malah menjauh dari pemberi rezeki.

Atas nama kesibukan lalu membuat kita terhalang untuk menghadiri kajian-kajian ilmu agama. Tidak semua berhak mengatakan bahwa kerja adalah ibadah, bagaimana mungkin disebut ibadah jika membuat kita semakin tidak mengenal-Nya dan mensyukuri segala anugerah-Nya.

Lalu apakah kemudian kerja menjadi tidak berarti? Tentu bukan itu poinnya, yang menjadi titik tekan dan poin utama bagi kita adalah menjaga hubungan dengan Allah dalam segala aspek kehidupan. Bekerja adalah ibadah ketika niat dan caranya benar. Meniatkan jalan bekerja sebagai sarana mengabdi kepada-Nya dengan cara yang benar, bukan dengan cara yang keliru. Berdalih menjemput rezeki, tetapi bekerja di tempat yang diharamkan, tempat yang memproduksi barang-barang dan jasa yang tidak mengindahkan aturan Allah, bekerja di perusahaan dengan sistem yang tidak sesuai dengan aturan-Nya, jika begitu maka lelah yang ada selama bekerja tak ada nilainya di sisi Allah. Mungkin disana kita bisa memperoleh penghasilan tetapi tidak memperoleh ganjaran, apalagi keberkahan.

Padahal tiada yang akan didapat selain tiga hal, bagi siapa-siapa yang melalaikan Allah dalam pekerjaan, usaha, dan upaya ikhtiarnya; kesibukan, kekurangan, dan kerugian.

kesibukan yang tiada henti-hentinya kondisi yang selalu merasa kurang dan tak pernah mencukupi serta kerugian yang hadir di akhir mesti seolah terlihat sebuah keuntungan pada awalnya begitulah ketika berkah tiada.

Karena hanya Allah-lah yang bisa membuat kita lapang, membuat kita cukup, dan membuat kita beruntung. Kembali mengutip kalimat Dr. Fadhl Ilahi, _’Siapa-siapa yang Allah kehendaki fakir, maka tak seorangpun yang mampu membuatnya merasa cukup. Siapa-siapa yang disibukkan oleh Allah, maka takkan ada yang mampu membuatnya luang.’_

*Bagaimana mungkin kerja kita bernilai ibadah, jika dalam prosesnya membuat kita lalai dan semakin jauh dari-Nya*

#GaransiLangit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *