Lebih dari Uang; From Money to Meaning

Bahasan mengenai rezeki seringkali dikaitkan dengan uang atau harta yang tampak, dan selalu saja bisa menjadi _trending topic,_ hal tersebut selalu saja menarik untuk dibahas di mana-mana, sampai seolah-olah hal itulah yang menjadi prioritas utama dalam hidup, kita habiskan segenap upaya, tenaga, waktu, untuk memikirkan, dan mencarinya.

Jika rezeki adalah jaminan Allah, maka sesungguhnya bekerja bukanlah untuk sekedar mencari uang. _’Money is not everything,_ karena kita sudah memahami bahwa memang sejatinya rezeki itu tidaklah sebatas uang. Alangkah merugi jika kita habiskan hari demi hari hanya sekedar untuk mencari uang.

Mari kita hijrah, hijrah cara pandang, hijrah pola pikir dan paradigma, hijrah dalam makna yang seluas-luasnya. Cara kita memandang sesuatu akan sangat menentukan perilaku sikap dan motivasi dalam diri. Seringkali hidup ini berat dan melelahkan karena pola pikir dan paradigma yang salah.

Ketika kita memandang bekerja hanya untuk mencari uang, maka yang hadir adalah perasaan terpaksa, bahkan perasaan tersiksa. Pekerjaan dan hidup ini seolah terlihat seperti sebuah keharusan dan rutinitas tanpa makna.

Mari kita hijrah, hijrah _”from money to meaning.”_ Aktivitas menjemput rejeki bukanlah sekedar aktivitas mencari uang, namun jauh lebih dari itu.

Cara manusia dalam melihat aktivitas menjemput rezeki bisa dibedakan paling tidak menjadi tiga kelompok;

Kelompok pertama adalah mereka yang melihat bekerja hanyalah sebatas tumpukan tugas semata. Mereka yang ada dalam kelompok ini akan sering mengalami kelelahan dalam hidup, tidak akan pernah bisa menikmati pekerjaannya, tidak ada kebahagiaan dan semangat di sana. Setiap hari bekerja dengan paradigma bahwa mereka sedang menjalani kemauan orang lain, menjalani rutinitas yang membosankan, karena dipaksa oleh tuntutan hidup dan kehidupan.

Kelompok kedua adalah mereka yang melihat aktivitas pekerjaannya sebagai sebuah karir, satu level di atas kelompok sebelumnya. Pada kelompok ini mereka mempunyai paradigma bahwa mereka sedang menjalankan mimpi-mimpinya sendiri, memiliki rencana besar yang ingin diwujudkan untuk dirinya, cita-citanya, kemauannya, dan masa depan yang diharapkan.

Pada level ini semuanya mulai terlihat lebih menarik, mulai hadir motivasi dan semangat dalam beraktivitas, akan hadir pula kegigihan saat berusaha. Dengan cara berpikir seperti ini mungkin kita akan menggapai kesuksesan, namun tidaklah lengkap jika berhenti hanya sampai level ini saja, karena pada level ini kesuksesan yang dicapai seringkali tidak diiringi dengan kebahagiaan hakiki.

Ya, meskipun di level ini lebih baik dibandingkan kelompok sebelumnya, namun belum bisa dikatakan cukup. Betapa banyak kita menjumpai orang yang karirnya sangat baik, sudah menggapai puncak-puncak kesuksesan, dalam ukuran manusia sudah terwujud semua mimpi pribadinya, namun hidup masih terasa kosong tak ada berkah, karena belum menemukan makna yang lebih indah.

Untuk menjemput garansi keberkahan dari-Nya, kita harus ada dalam kelompok yang ketiga yaitu mereka yang melihat aktivitas menjemput rezeki bukanlah sebatas tuntutan tugas atau karir semata, namun mereka melihatnya sebagai sebuah misi.

Apa bedanya sebuah karir dengan sebuah misi?

Saat memandang aktivitasnya sebagai sebuah karir maka mereka sesungguhnya sedang memperjuangkan sesuatu untuk kepentingan dirinya, ‘dompetnya’, saldonya, _that’s all._

Namun ketika kita memandang aktivita atau pekerjaan yang dilakukan sebagai sebuah misi, kita sedang memperjuangkan sesuatu untuk kebermanfaatan dan kepentingan yang lebih luas, memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk sebanyak mungkin manusia, mempersembahkan manfaat untuk umat.

Ya, ini adalah masalah cara pandang dan persoalan niat, satu aspek yang akan sangat menentukan dan membuat banyak perbedaan dalam banyak hal, keberkahan, kemudahan, sampai kebahagiaan.

Kita ada di kuadran mana? Karir atau misi?

Pekerjaan kita, usaha kita, profesi kita atau apapun yang kita lakukan sekarang ada di kuadrant mana?

Karir atau misi?

Ayunkan langkah untuk hijrah, hijrah dari memandang hidup ini hanya sebatas karir, menjadi hidup untuk sebuah misi. Hujamkan komitmen, kemudian lanjutkan dengan pembuktian tindakan. Hidup adalah tentang seberapa mampu menjadikan diri menjadi saluran manfaat.

“Jika hidup sekedar hidup, kera juga hidup. Jika kerja sekedar bekerja, kerbau di sawah juga kerja.” Satu pernyataan yang menggugah dari Buya Hamka tersebut harusnya menggerakkan diri untuk memiliki niat hidup yang lebih dari sekedar mencari uang.

#GaransiLangit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *