Produktivitas dan Perasaan Aman

Produktivitas dan Perasaan Aman

Data yang saya dapat menunjukkan bahwa Indonesia paling tidak memiliki 4,8 juta entrepreneur baru untuk menjadi negara yang makmur. Jumlah entrepreneur di Indonesia masih jauh tertinggal di bawah negara-negara Asia lainnya.

Selama empat sampai lima tahun terakhir banyak pihak telah berupaya untuk menciptakan dan membangun sebuah kondisi yang baik bagi usaha kecil dan menengah. Tidak sedikit juga para tokoh yang telah menyerukan entrepreneurship melalui buku ceramah dan berbagai kesempatan lainnya namun belum juga menunjukkan hasil yang signifikan. Indonesia masih membutuhkan banyak pengusaha baru dalam upaya menggerakkan masyarakatnya menjadi masyarakat berdaya dan mandiri secara ekonomi.

Iya, profesi karyawan atau orang gajian masih banyak diminati oleh sebagian besar masyarakat. Konon katanya profesi tersebut merupakan profesi yang aman karena setiap bulannya punya pemasukan yang pasti dan bisa beraktivitas dengan tenang.

Nada yang serupa juga disampaikan oleh Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang fenomenal ‘Chasflow Quadrant’, Kiyosaki membagi 4 kuadran sumber penghasilan dengan dua kelompok besar, kelompok kiri _(employee dan self employee),_ disebutnya sebagai kelompok aman yang banyak diminati sebagian besar orang, dibandingkan kelompok kanan _(business owner dan investor)._

Sejatinya persoalan ketenangan bukanlah tentang menjadi orang gajian atau non gajian, bukanlah tentang menjadi karyawan atau pengusaha. Bukanlah tentang Anda berada di kuadran kiri atau kuadran kanan, melainkan semua ini hanyalah tentang keyakinan yang utuh kepada Rabb yang Maha Pemberi dan menjamin rezeki, _Allah ar Razzaq._

Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah-lah rezekinya. Dia Maha Mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab _Lauhul Mahfudz_ yang nyata. (QS. Huud : 6)

Satu ayat yang sangat populer bahkan mungkin sering kita baca tetapi entah mengapa jaminan Allah ini tak masuk ke hati, seolah kita tidak percaya dengan apa yang telah Allah nyatakan.

Menurut sebagian mufassir kata _’daabbah’_ dalam ayat tersebut adalah kata untuk mewakili binatang-binatang yang hina, sebab rendahnya sifat mereka, terbelakang cara geraknya, kotor keadaannya, liar pula hidupnya. Allah menyebut _daabbah_ di ayat ini seakan-akan untuk menegaskan jika binatang-binatang kerendahan kotor dan liar saja dia jamin rejekinya apalagi manusia.

Namun banyak diantara kita yang rasanya tak percaya dengan jaminan ini, khawatir, takut, gelisah, bahkan sampai menjemput dari rezeki dengan cara yang kotor, tak peduli dengan ketentuan-Nya, tak peduli bisnis yang dijalankan itu halal atau tidak, perusahaan tempatnya bekerja itu apakah menjual barang-barang haram atau tidak, sistemnya halal atau tidak, ada unsur ribawi atau tidak, jasanya halal atau tidak, yang penting setiap bulan bisa makan. Seolah perusahaan atau bisnisnya itulah yang menjamin rezekinya, tidak berani untuk menentukan _resign_ dari perusahaan atau hijrah dari bisnis yang belum jelas kehalalannya tersebut.

Memangnya siapa pemberi rezeki?

Ketenangan sejati adalah keyakinan akan janjiNya, ketenanganan akan membuahkan keberanian, kegigihan, dan produktivitas tinggi, persis seperti seorang pekerja yang dijamin oleh atasannya. “Sudah, kamu bekerja saja sebaik mungkin, berikan kemampuan terbaikmu untuk perusahaan ini, curahkan segenap pikiranmu untuk membuat perusahaan ini berkembang, tak perlu pikirkan yang lain, karena apapun kebutuhanmu dan keluargamu akan dijamin oleh perusahaan.” Mendengar pernyataan atasannya ini kira-kira apa yang akan diberikan oleh pekerja tersebut untuk perusahaannya? Kalau pekerja itu tahu diri, maka ia akan total dalam bekerja. Ia kan memberikan totalitas kerja yang hadir dari hati yang tenang, karena semua kebutuhannya diyakini akan di cukupkan oleh perusahaan seperti yang dijanjikan oleh atasannya.

Anehnya, seringkali kita lebih yakin dengan janji-janji manis yang diberikan manusia dibanding janji-janji pasti yang dinyatakan oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Tugas kita hanyalah patuh sebisa mungkin, taat kepadaNya dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Bekerja, berbisnis, semua adalah ibadah. Lakukan semua dengan mempersembahkan yang terbaik untukNya, berikan _performance_ terbaik dalam kerja untukNya, namun jangan pernah menggantung kan hati ini pada pekerjaan atau usaha. Jangan sampai itu semua melalaikan kita dari kepatuhan kepadaNya. Takkan ada yang namanya ketenangan sejati di sana, merasa amanlah dengan janji dan jaminan Nya, bukan dengan pekerjaan atau usaha yang sedang kita jalankan.

Ketenangan hakiki berbanding lurus dengan keyakinan yang utuh kepada Rabb yang Maha Pemberi dan Penjamin Rezeki.

Sumber: Garansi Langit

kangsalman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *