Sentuhan Berkah

Sering kita dengar, sering kita baca, bahkan hal ini sering keluar dari mulut kita sendiri, bahwa rezeki manusia telah dijamin oleh Sang Maha Pemberi Rezeki, Allah Subhanahu wa ta’ala. Urusan yang satu ini mutlak ada pada genggaman Nya dan kekuasaan Nya, namun entah mengapa sebagian di antara kita, bahkan banyak diantara kita yang sebenarnya tahu tentang hal ini, namun tahu tersebut belum berubah menjadi sebuah keyakinan, apalagi berbuah ketenangan.

Padahal ketika hal ini sudah benar-benar terinstall dalam keyakinan diri, maka dampaknya adalah lompatan kebahagiaan, percepatan, sekaligus keajaiban dalam hidup.

Tiada satupun hidayah dan hikmah yang terhujam ke dalam hati manusia kecuali terjadi atas kehendak Nya. Maka dengan memohon pertolongan Nya tulisan-tulisan ini berupaya untuk memberikan perspektif yang fresh tentang satu aset termahal yang sering kita sebut dengan nama keyakinan. Keyakinan jaminan Allah, keyakinan akan janji Nya, keyakinan yang diharapkan akan berdampak pada ketenangan dan kegigihan menjemput ridho Nya.

Karena sesungguhnya tidak ada yang perlu kita khawatirkan terkait rejeki, sepanjang kita mau ikut aturan main yang telah ditetapkan.

Satu hal yang ingin saya share pada bagian awal ini bahwa hidup ini benar-benar indah dan mudah, jika memang kita mau patuh dan serius melibatkan penguasa langit bumi, Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya hidup ini benar-benar melelahkan ketika kita sok tahu, tak peduli dengan petunjuk Nya, dan menghiraukan aturan-aturan Nya.

Bagaimana bisa kita pontang-panting sibuk dalam usaha menggenggam dunia namun melupakan pemilik dunia? tiada kata lain yang pantas menggambarkan hal tersebut selain sebuah kebodohan. Padahal Allah telah menyiapkan jalan-jalan kemudahan yang bisa kita tempuh dalam hidup ini, jalan-jalan yang Allah garansi dengan keindahan dan bimbingan, karena sejatinya manusia tidak diciptakan untuk menyelesaikan masalah atau menghadirkan solusi dengan kemampuan sendiri melainkan Allah yang meminta untuk dilibatkan.

Tidak ada yang kita tahu kecuali Allah yang memberitahu. Tidak ada yang kita miliki kecuali Allah yang menitipkan. Tidak ada kekuatan kecuali Allah yang menguatkan. Tidak ada pemahaman kecuali Allah yang memahamkan. Jika memang seperti itu apa alasan kita untuk tidak sungguh-sungguh melibatkan Nya dalam hidup ini. _Laa haula wala quwwata illa billah_

Salah seorang guru saya pernah menasehati, seberapa pun besar penghasilanmu jika Allah tidak mencukupi maka tidak akan pernah cukup. Namun sebaliknya seberapa pun minimnya penghasilan mu dalam ukuran manusia, jika Allah mencukupi maka semuanya akan cukup. Sebuah statement yang berbobot penuh makna dan memang mutlak benar adanya.

Bukan tentang banyak atau sedikit, tapi tentang kelapangan atau kesempitan, tentang kebermanfaatan atau kesia-siaan. Bukan tentang kuantitas namun kualitas keberkahan di dalamnya. Tentu saja kuantitas besar yang diiringi dengan kualitas keberkahan adalah yang paling utama, namun sedikit berkah jauh lebih utama jika dibanding dengan banyak yang tak berbalut berkah. Sungguh apa yang sedikit namun mencukupi lebih baik daripada segala yang banyak tapi melalaikan.

Ya, berkah itu kini seperti sesuatu yang hilang satu yang amat penting namun hilang dari negeri ini, sehingga negeri yang seharusnya makmur dengan sumber daya yang begitu melimpah tapi gagal kemakmuran rakyat nya. Berkah yang hilang dari keluarga sehingga anak-anak tidak tumbuh seperti harapan orang tuanya. Berkah yang hilang dari perusahaan sehingga perusahaan tidak pernah puas dengan karyawannya dan karyawan pun tidak pernah puas dengan perusahaannya.

Berkah itu hilang sehingga mereka yang seolah berkecukupan namun tak merasa bahagia sekali pun di rumahnya sendiri. Berkah itu hilang sehingga banyak orang yang cerdas namun tidak menjadi solusi. Berkah itu hilang sehingga tatanan masyarakat yang seharusnya begitu kuat karena memiliki banyak barisan anak-anak muda, malah jadi masyarakat yang lemah dalam banyak aspek.

Seberapa banyak pun potensi kekuatan, uang, daya, dan upaya yang kita miliki itu semua tidak akan berarti apa-apa kecuali Allah pemilik langit dan bumi memang berkehendak untuk menjadikannya berarti.

Sahabat, setiap kita pasti memiliki target pencapaian dalam hidup. Apa yang kita kejar, apa yang kita cari, apapun itu, milikilah tujuan utama untuk menjemput berkah karena apapun yang kita rasakan menjadi tak berarti jika tak terbingkai dengan berkah.

Standar pencapaian akan menentukan tindakan, kesalahan dalam menetapkan standar akan berdampak pada kesalahan dalam mengambil tindakan. Tetapkan standar berkah Allah menjadi visi kita karena berkah adalah puncak pencapaian tertinggi di dunia yang juga bernilai bagi kampung akhirat.

Berkah adalah ketaatan kepada Allah dalam segala kondisi. Hidup yang berkah bukan tentang panjang atau pendeknya usia, tetapi seberapa mampu kita mengoptimalkan usia yang dimiliki.

Rezeki yang berkah bukan tentang banyak atau sedikitnya, tetapi seberapa mampu kita bersabar saat sedikit, seberapa mampu kita bersyukur saat banyak atau berlimpah, dan seberapa besar manfaat dari rezeki tersebut.

Ilmu yang berkah bukan tentang seberapa banyak teori yang kita miliki tetapi seberapa mampu kita mengamalkan ilmu tersebut dan membagi seluas-luasnya.

_Albarokatu tuziidukum fi thoah,_ berkah itu menambahkan ketaatan mu kepada Allah berkah tidak selalu identik dengan sehat, karena sakit pun bisa berbalut berkah sebagaimana sakitnya Nabi Ayub alaihissalam yang menambah ketaatan kepada Allah. Tanah yang berkah tidak selalu identik dengan kesuburan dan panorama indah, karena tanah yang tandus seperti Makkah memiliki keutamaan di hadapan Allah dan tiada tandingannya.

Berkah itu sukses karena berkah adalah tentang menjaga integritas dalam meraih mimpi dunia menuju visi akhirat.

Berkah itu bahagia, karena berkah adalah keindahan sejati yang dirasakan oleh siapapun insan yang memiliki kebersihan hati, _as-sa’adah,_ kebahagiaan yang berakarkan ketaatan atas karunia bimbingan Allah dalam melaksanakan apa yang diridhoi Nya.

Berkah itu kaya, karena terkadang anugerah kecukupan yang tak diberi kecuali kepada hamba Nya yang dicintai.

Berkah itu mulia, karena berkah adalah tentang distribusi manfaat kepada sebanyak-banyaknya umat.

Allah subhanahu wa ta’ala meng garansi akan menghadirkan keberkahan dalam hidup bagi siapapun yang mau berjalan _on the track,_ bagi siapapun yang mau berkontribusi dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

*”Semua yang kita miliki akan menjadi tak berarti jika tak terbingkai dalam berkah”.*

Sumber: Garansi Langit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *