Sungguh Kasihan

Setiap kita mungkin pernah atau akan mengalami episode kehidupan yang menegangkan, khawatir, menderita, susah, takut, cemas, dan semacamnya. Itu semua adalah bagian dari ujian hidup manusia. Degup jantung berdebar cepat, kegalauan yang merasuk ke hati dan pikiran, perasaan sedih yang juga menyeruak masuk tiba-tiba, perasaan campur aduk tak karuan, sesuatu yang mengguncang jiwa, mengganggu kedamaian dan merampas kenyamanan hati. Ingin rasanya menumpahkan semua gemuruh amarah, gaduh, gelisah gerah, dan semua rasa yang telah membuat diri tak tenang. Seakan jiwa ini terus berontak kuat melawan kondisi ketidakbahagiaan yang terjadi.

Ya, menderita adalah hal yang paling dihindari oleh manusia, dan kebahagiaan merupakan dambaan setiap insan. Penderitaan sebagai raut kesedihan mewakili banyaknya masalah hidup yang terjadi, sedangkan kebahagiaan adalah wajah kedamaian dan ketenangan dalam jiwa seseorang.

Saya, Anda, mereka, dan kita semua pasti ingin merengkuh kebahagiaan. Bukankah itu salah satu alasan mengapa kita masih terus hidup hingga saat ini? Namun kenyataannya seolah-olah kebahagiaan itu datang dan pergi begitu cepat, sifatnya hanya sementara waktu, pagi bahagia, siang hari di kantor bertemu dengan pekerjaan ruwet dan hati pun terasa penat.

Tapi apakah benar bahagia tidak bisa menjadi hal yang permanen dalam hidup ini?, tentu itu sangat tergantung bagaimana cara kita menghadapi hidup ini. Hidup ini pilihan, jika Anda memilih jalan kebenaran, bahagialah yang dicapai, namun jalan yang salah yang Anda pilih, maka sengsaralah yang didapat.

Di dalam hidup ini ada dua jalan yang bisa ditempuh oleh manusia ketika mencari kebahagiaan. Pertama mereka yang mencari kebahagiaan dengan kesenangan, kedua mereka yang mencari kebahagiaan dengan ketenangan.

Jika jalan kesenangan adalah jalan kegembiraan sesaa, bahagia yanh didapat pada jalan ini seperti bahagianya seorang anak kecil, sebentar menangis sebentar tertawa. Endapan kebahagiaannya hanya pada permukaan emosional. Aktivitas yang dipilih biasanya adalah hiburan, segala cara ditempuh untuk mendapatkan gurauan yang bisa membuat hati tertawa. Ketika hati mereka tertawa, maka mereka merasa senang dan bahagia, Namun selang beberapa waktu, kegundahan merekapun muncul kembali. Jalan ini mewakili mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya. Allah berfirman, “…. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imron: 185)

Tujuan kehidupan orang-orang seperti ini hanyalah mencari kesenangan dunia. Mereka menganggap hal itulah bisa membahagiakan mereka. Mereka lalai akan perintah Allah diakibatkan oleh kesenangan-kesenangan mereka. Semakin dalam mereka menikmati dunia, maka akan semakin jauh dari Allah. Mereka mengabaikan petunjuk dan perintah Nya. Asyik menikmati dunia membuat mereka tak sempat lagi berpikir tentang nikmat Allah yang telah mereka habiskan.

Hal inipun akan semakin membuat nilai kebahagiaan itu jauh dari hati mereka. Kehidupan mereka akan terasa sempit dan menjenuhkan. Khawatir, gundah dan gulanah setiap detik menghampiri perasaan. Mereka akan sangat menjaga eksistensi keduniaannya dengan berbagai macam cara semua. Semua jalan di tempuh, tak mengenal halal-haram.

Iblis pun ikut andil dalam pergulatan hidup mereka dengan mengiming-imingi hal-hal yang manis. Kesenangan yang mereka lakukan pun dihias hingga terlihat seperti perbuatan yang baik, meskipun itu sebenarnya adalah hal yang salah. “Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik ….” (QS. Fathir: 8)

Dunia ini hanyalah tempat bersenang-senang yang melalaikan hati. Tempat bermegah-megah dan memperbanyak harta, itulah kesenangan yang melalaikan. “…. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Sudah menjadi tabiat dasar bagi mereka yang memilih jalan ini, bahwa apabila diberikan kesenangan maka dia akan berpaling dan lalai dari Allah. Jika ada masalah pada mereka, maka akan gampang putus asa, itulah mengapa kebahagiaan mereka cepat pergi dan menghilang.

Kehidupan dunia tak secuilpun memberi kebahagian hakiki di hati yang paling dalam. Kesenangan dunia hanya akan memberi kebahagiaan sementara atau dalam bahasa lain disebut sebagian relatif. Kebahagiaan yang tak bisa disamaratakan kualitasnya dengan orang lain. Di sini kebahagiaan tak bersifat mutlak adanya. Dia bisa datang dan pergi tanpa kendali manusia, karena dunia ini pun sifatnya sementara. Inilah kesenangan dunia, dan bukankah jalan pilihan bagi orang-orang yang merindukan ketenangan dan kebahagiaan sejati. Kata-kata indah dari Ibnu Taimiyah rasanya sangat pas bagi mereka yang memilih jalan kesenangan dunia ini.

“Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, Maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan paling besar di dunia ini?” Ulama ini menjawab, “Cinta pada Allah, merasa senang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, merasa bahagia ketika mengingat-Nya, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”.

#GaransiLangit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *